Jumat, 03 Desember 2010

Kisah Kaab....bag 2

Aku pun
menghampirinya, lalu
duduk di hadapannya.
Beliau tiba-tiba
bertanya, “Wahai
Ka’ab, mengapa dirimu
tidak ikut? Bukankah
kau telah menyatakan
baiat kesetianmu?”
Aku menjawab, “Ya
Rasulullah! Demi Allah.
Kalau duduk di
hadapan penduduk
bumi yang lain,
tentulah aku akan
berhasil keluar dari
amarah mereka
dengan berbagai
alasan dan dalil
lainnya. Namun, demi
Allah. Aku sadar kalau
aku berbicara bohong
kepadamu dan engkau
pun menerima alasan
kebohonganku, aku
khawatir Allah akan
membenciku. Kalau
kini aku bicara jujur,
kemudian karena itu
engkau marah
kepadaku,
sesungguhnya aku
berharap Allah akan
mengampuni
kealpaanku. Ya
Rasululah saw., demi
Allah, aku tidak punya
uzur. Demi Allah,
keadaan ekonomiku
aku tidak pernah stabil
disbanding tatkala aku
mengikutimu itu!”
Rasulullah berkata,
“Kalau begitu, tidak
salah lagi. Kini,
pergilah kau sehingga
Allah menurunkan
keputusan-Nya
kepadamu !”
Aku pun pergi diikuti
oleh orang-orang Bani
Salamah. Mereka
berkata kepada, “Demi
Allah. Kami belum
pernah melihatmu
melakukan dosa
sebelum ini. Kau
tampaknya tidak
mampu membuat-
buat alasan seperti
yang lain, padahal
dosamu itu sudah
terhapus oleh
permohonan ampun
Rasulullah!”
Mereka terus saja
menyalahkan
tindakanku itu hingga
ingin rasanya aku
kembali menghadap
Rasullah saw. untuk
membawa alasan
palsu, sebagaimana
orang lain
melakukannya.
Aku bertanya kapada
mereka, “Apakah ada
orang yang senasib
denganku?”
Mereka menjawab,
“Ya! Ada dua orang
yang jawabannya
sama dengan apa yang
kau perbuat. Sekarang
mereka berdua juga
mendapat keputusan
yang sama dari
Rasulullah
sebagaimana
keadaanmu sekarang!”
Aku bertanya lagi,
“Siapakah mereka itu?”
Mereka menjawab,
“Murarah bin Rabi’ah
Al-Amiri dan Hilal bin
Umayah Al-Waqifi.”
Mereka menyebutkan
dua nama orang shalih
yang pernah ikut
dalam perang Badr
dan yang patut
diteladani. Begitu
mereka menyebutkan
dua nama orang itu,
aku bergegas pergi
menemui mereka.
Tak lama setelah itu,
aku mendengar
Rasululah melarang
kaum muslimin
berbicara dengan kami
bertiga, di antara
delapan puluhan orang
yang tidak ikut dalam
perang tersebut.
Kami mengucilkan diri
dari masyarakat
umum. Sikap mereka
sudah lain kapada
kami sehingga rasanya
aku hidup di suatu
negeri yang lain dari
negeri yang aku kenal
sebelumnya. Kedua
rekanku itu mendekam
di rumah masing-
masing menangisi
nasib dirinya, tetapi
aku yang paling kuat
dan tabah di antara
mereka. Aku keluar
untuk shalat jamaah
dan kaluar masuk
pasar meski tidak
seorang pun yang mau
berbicara denganku
atau menanggapi
bicaraku. Aku juga
datang ke majilis
Rasullah saw. sesudah
beliau shalat. Aku
mengucapkan salam
kepada beliau, sembari
hati kecilku bertanya-
tanya memperhatikan
bibir beliau, “Apakah
beliau menggerakkan
bibirnya menjawab
salamku atau tidak?”
Aku juga shalat dekat
sekali dengan beliau.
Aku mencuri pandang
melihat pandangan
beliau. Kalau aku
bangkit mau shalat, ia
melihat kepadaku.
Namun, apabila aku
melihat kepadanya, ia
palingkan mukanya
cepat-cepat. Sikap
dingin masyarakat
kepadanya, ia
palingkan mukanya
cepat-cepat. Sikap
dingin masyarakat
kepadaku terasa lama
sekali. Pada suatu hari,
aku mengetuk pintu
paga Abu Qaradah,
saudara misanku dan
ia adalah saudara yang
paling aku cintai. Aku
mengucapkan salam
kepadanya, tetapi
demi Allah, ia tidak
menjawab salamku.
Aku menegurya, “Abu
Qatadah! Aku mohon
dengan nama Allah,
apakah kau tau bahwa
aku mencintai Allah
dan Rasul-Nya?”
Ia diam. Aku
mengulangi
permohonanku itu,
namun ia tetap
terdiam. Aku
mengulangi
permohonanku itu,
namun ia tetap
terdiam. Aku
mengulanginya sekali
lagi, tapi ia hanya
menjawab, “Allah dan
Rasul-Nya lebih tahu!”
Air mataku tidak
tertahankan lagi.
Kemudian aku kembali
dengan penuh rasa
kecewa.
Pada suatu hari, aku
berjalan-jalan ke pasar
kota Madinag. Tiba-
tiba datanglah orang
awam dari negeri
Syam. Orang itu
biasanya
mengantarkan
dagangan pangan ke
kota Madinah. Ia
bertanya, “Siapakah
yang mau menolongku
menemui Ka’ab bin
Malik?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar