Orang-orang di pasar
itu menunjuk kepdaku,
lalu orang itu datang
kepadaku dan
menyerahkan sepucuk
surat kepadaku dan
menyerahkan sepucuk
surat dari raja Ghassan.
Setelah kubuka, isinya
sebagai berikut, “…
Selain dari itu, bahwa
sahabatmu sudah
bersikap dingin
terhadapmu. Allah
tidak menjadikan kau
hidup terhina dan
sirna. Maka, ikutlah
dengan kami di
Ghassan, kamu akan
menghiburmu!”
Hatiku berkata ketika
membaca surat itu, “Ini
juga salah satu ujian!”
Lalu aku memasukkan
surat itu ke dalam
tungku dan
membakarnya.
Pada hari yang ke-40
dari pengasinganku di
kampong halaman
sendiri, ketika aku
menanti-nantikan
turunnya wahyu tiba-
tiba datanglah
kepadaku seorang
pesuruh Rasulullah
saw. menyampaikan
pesannya, “Rasulullah
memerintahkan
kepadamu supaya
kamu menjauhi
istrimu!”
Aku semakin sedih,
namun aku juga
semakin pasrah
kepada Allah, hingga
terlontar pertanyaanku
kepadanya, “Apakah
aku harus
menceraikannya atau
apa yang akan
kulakukan?”
Ia menjelaskan, “Tidak.
Akan tetapi, kamu
harus menjauhkan
dirimu darinya dan
menjauhkannya dari
dirimu!”
Kiranya Rasulullah juga
sudah mengirimkan
pesannya kepada dua
sahabatku yang
bernasib sama. Aku
langsung
memerintahkan
kepada istriku,
“Pergilah kau kepada
keluargamu sampai
Allah memutuskan
hukumnya kepada
kita!”
Istri Hilal bin Umaiyah
datang menghadap
Rasulullah saw. lalu ia
bertanya, “Ya
Rasulullah, sebenarnya
Hilal bin Umaiyah
seorang yang sudah
sangat tua, lagi pula ia
tidak memiliki seorang
pembantu. Apakah ada
keberatan kalau aku
melayaninya di
rumah?”
Rasulullah saw.
menjawab, “Tidak!
Akan tetapi ia tidak
boleh mendekatimu!”
Istri Hilal menjelaskan,
“Ya Rasulullah! Ia
sudah tidak
bersemangat pada
yang itu lagi. Demi
Allah, yang
dilakukannya hanya
menangisi dosanya
sejak saat itu hingga
kini!”
Ada seorang familiku
yang juga
mengusulkan, “Coba
minta izin kepada
Rasulullah supaya
istrimu melayai dirimu
seperti halanya istri
Hilal bin Umayah!”
Aku menjawab tegas,
“Tidak Aku tidak akan
minta izin kepada
Rasulullah saw.
tentang istriku. Apa
katanya kelak,
sedangkan aku masih
muda?”
Akhirnya, hari-hari
selanjutnya aku hidup
seorang diri di rumah.
Lengkaplah bilangan
malam sejak orang-
orang dicegah
berbicara denganku
menjadi 50 hari 50
malam. Pada waktu
sedang shalat subuh di
suatu pagi dari malam
yang ke-50 ketika aku
sedang dudung
berdzkir minta ampun
dan mohon dilepaskan
dari kesempitan hidup
dalam alam yang luas
ini, tiba-tiba aku
mendengar teriakan
orang-orang
memanggil namaku.
‘Wahai Ka’ab bin Malik,
bergembiralah! Wahai
Ka’ab bin Malik,
bergembiralah!”
Mendengar berita itu
aku langsung sujud
memanjatkan syukur
kepada Allah. Aku
yakin pembebasan
hukuman telah
dikeluarkan. Aku yakin,
Allah telah
menurunkan
ampunan-Nya.
Rasulullah
menyampaikan berita
itu kepada shahabat-
shahabatnya seusai
shalat shubuh bahwa
Allah telah
mengampuni aku dan
dua orang shahabatku.
Berlomba-lombalah
orang mendatangi
kami, hendak
menceritakan berita
germbira itu. Ada yang
datang dengan
berkuda, ada pula
yang datang dengan
berlari dari jauh
mendahului yang
berkuda. Sesudah
keduanya sampai di
hadapanku, aku
berikan kepada dua
orang itu kedua
pakaian yang aku
miliki. Demi Allah, saat
itu aku tidak memiliki
pakaian kecuali yang
dua itu.
Aku mencari pinjaman
pakaian untuk
menghadap Rasullah.
Ternyata aku telah
disambut banyak
orang dan dengan
serta merta mereka
mengucapkan selamat
kepadaku. Demi Allah,
tidak seorang pun dari
muhajirin yang berdiri
dan memberi ucapan
selamat selain Thal’ah.
Sikap Thalhah itu tak
mungkin aku lupakan.
Sesudah aku
mengucapkan salam
kepada Rasulullah,
mukanya tampak
cerah dan gembira,
katanya kemudian,
“Bergembiralah kau
atas hari ini! Inilah hari
yang paling baik
bagimu sejak kau
dilahirkan oleh
ibumu!”
“Apakah dari Allah
ataukah dari engkau
ya Rasulullah?”
tanyaku sabar.
“ Bukan dariku!
Pengampunan itu
datangnya dari Allah!”
jawab Rasul saw.
Demi Allah, aku belum
pernah merasakan
besarnya nikmat Allah
kepadaku sesudah Dia
memberi hidayah
Islam kepadaku, lebih
besar bagi jiwaku
daripada sikap jujurku
kepada Rasulullah
saw.”
Ka’ab lalu membaca
ayat pengampunannya
itu dengan penuh haru
dan syahdu, sementara
air matanya berderai
membasahi kedua
pipinya.
“ Dan terhadap tiga
orang yang
ditangguhkan
(penerimaan taubat)
mereka, hingga
apabila bumi telah
menjadi sempit bagi
mereka, padahal bumi
itu luas, dan jiwa
mereka pun telah
sempit (pula terasa)
oleh mereka, serta
telah mengetahui
bahwa tidak ada
tempat lari dari (siksa)
Allah melainkan
kepada-Nya saja.
Kemudian, Allah
menerima taubat
mereka agar mereka
tetap dalam
taubatnya.
Sesungguhnya Allah-
lah Yang Maha
Menerima taubat lagi
Maha Penyayang.” (At-
Taubah:118)
Berdiri 12 maret 2010 awal pembukaan memiliki 25 santri. Di asuh oleh ustdh. Sholihah
Kamis, 30 Desember 2010
Jumat, 03 Desember 2010
Kisah Kaab....bag 2
Aku pun
menghampirinya, lalu
duduk di hadapannya.
Beliau tiba-tiba
bertanya, “Wahai
Ka’ab, mengapa dirimu
tidak ikut? Bukankah
kau telah menyatakan
baiat kesetianmu?”
Aku menjawab, “Ya
Rasulullah! Demi Allah.
Kalau duduk di
hadapan penduduk
bumi yang lain,
tentulah aku akan
berhasil keluar dari
amarah mereka
dengan berbagai
alasan dan dalil
lainnya. Namun, demi
Allah. Aku sadar kalau
aku berbicara bohong
kepadamu dan engkau
pun menerima alasan
kebohonganku, aku
khawatir Allah akan
membenciku. Kalau
kini aku bicara jujur,
kemudian karena itu
engkau marah
kepadaku,
sesungguhnya aku
berharap Allah akan
mengampuni
kealpaanku. Ya
Rasululah saw., demi
Allah, aku tidak punya
uzur. Demi Allah,
keadaan ekonomiku
aku tidak pernah stabil
disbanding tatkala aku
mengikutimu itu!”
Rasulullah berkata,
“Kalau begitu, tidak
salah lagi. Kini,
pergilah kau sehingga
Allah menurunkan
keputusan-Nya
kepadamu !”
Aku pun pergi diikuti
oleh orang-orang Bani
Salamah. Mereka
berkata kepada, “Demi
Allah. Kami belum
pernah melihatmu
melakukan dosa
sebelum ini. Kau
tampaknya tidak
mampu membuat-
buat alasan seperti
yang lain, padahal
dosamu itu sudah
terhapus oleh
permohonan ampun
Rasulullah!”
Mereka terus saja
menyalahkan
tindakanku itu hingga
ingin rasanya aku
kembali menghadap
Rasullah saw. untuk
membawa alasan
palsu, sebagaimana
orang lain
melakukannya.
Aku bertanya kapada
mereka, “Apakah ada
orang yang senasib
denganku?”
Mereka menjawab,
“Ya! Ada dua orang
yang jawabannya
sama dengan apa yang
kau perbuat. Sekarang
mereka berdua juga
mendapat keputusan
yang sama dari
Rasulullah
sebagaimana
keadaanmu sekarang!”
Aku bertanya lagi,
“Siapakah mereka itu?”
Mereka menjawab,
“Murarah bin Rabi’ah
Al-Amiri dan Hilal bin
Umayah Al-Waqifi.”
Mereka menyebutkan
dua nama orang shalih
yang pernah ikut
dalam perang Badr
dan yang patut
diteladani. Begitu
mereka menyebutkan
dua nama orang itu,
aku bergegas pergi
menemui mereka.
Tak lama setelah itu,
aku mendengar
Rasululah melarang
kaum muslimin
berbicara dengan kami
bertiga, di antara
delapan puluhan orang
yang tidak ikut dalam
perang tersebut.
Kami mengucilkan diri
dari masyarakat
umum. Sikap mereka
sudah lain kapada
kami sehingga rasanya
aku hidup di suatu
negeri yang lain dari
negeri yang aku kenal
sebelumnya. Kedua
rekanku itu mendekam
di rumah masing-
masing menangisi
nasib dirinya, tetapi
aku yang paling kuat
dan tabah di antara
mereka. Aku keluar
untuk shalat jamaah
dan kaluar masuk
pasar meski tidak
seorang pun yang mau
berbicara denganku
atau menanggapi
bicaraku. Aku juga
datang ke majilis
Rasullah saw. sesudah
beliau shalat. Aku
mengucapkan salam
kepada beliau, sembari
hati kecilku bertanya-
tanya memperhatikan
bibir beliau, “Apakah
beliau menggerakkan
bibirnya menjawab
salamku atau tidak?”
Aku juga shalat dekat
sekali dengan beliau.
Aku mencuri pandang
melihat pandangan
beliau. Kalau aku
bangkit mau shalat, ia
melihat kepadaku.
Namun, apabila aku
melihat kepadanya, ia
palingkan mukanya
cepat-cepat. Sikap
dingin masyarakat
kepadanya, ia
palingkan mukanya
cepat-cepat. Sikap
dingin masyarakat
kepadaku terasa lama
sekali. Pada suatu hari,
aku mengetuk pintu
paga Abu Qaradah,
saudara misanku dan
ia adalah saudara yang
paling aku cintai. Aku
mengucapkan salam
kepadanya, tetapi
demi Allah, ia tidak
menjawab salamku.
Aku menegurya, “Abu
Qatadah! Aku mohon
dengan nama Allah,
apakah kau tau bahwa
aku mencintai Allah
dan Rasul-Nya?”
Ia diam. Aku
mengulangi
permohonanku itu,
namun ia tetap
terdiam. Aku
mengulangi
permohonanku itu,
namun ia tetap
terdiam. Aku
mengulanginya sekali
lagi, tapi ia hanya
menjawab, “Allah dan
Rasul-Nya lebih tahu!”
Air mataku tidak
tertahankan lagi.
Kemudian aku kembali
dengan penuh rasa
kecewa.
Pada suatu hari, aku
berjalan-jalan ke pasar
kota Madinag. Tiba-
tiba datanglah orang
awam dari negeri
Syam. Orang itu
biasanya
mengantarkan
dagangan pangan ke
kota Madinah. Ia
bertanya, “Siapakah
yang mau menolongku
menemui Ka’ab bin
Malik?”
menghampirinya, lalu
duduk di hadapannya.
Beliau tiba-tiba
bertanya, “Wahai
Ka’ab, mengapa dirimu
tidak ikut? Bukankah
kau telah menyatakan
baiat kesetianmu?”
Aku menjawab, “Ya
Rasulullah! Demi Allah.
Kalau duduk di
hadapan penduduk
bumi yang lain,
tentulah aku akan
berhasil keluar dari
amarah mereka
dengan berbagai
alasan dan dalil
lainnya. Namun, demi
Allah. Aku sadar kalau
aku berbicara bohong
kepadamu dan engkau
pun menerima alasan
kebohonganku, aku
khawatir Allah akan
membenciku. Kalau
kini aku bicara jujur,
kemudian karena itu
engkau marah
kepadaku,
sesungguhnya aku
berharap Allah akan
mengampuni
kealpaanku. Ya
Rasululah saw., demi
Allah, aku tidak punya
uzur. Demi Allah,
keadaan ekonomiku
aku tidak pernah stabil
disbanding tatkala aku
mengikutimu itu!”
Rasulullah berkata,
“Kalau begitu, tidak
salah lagi. Kini,
pergilah kau sehingga
Allah menurunkan
keputusan-Nya
kepadamu !”
Aku pun pergi diikuti
oleh orang-orang Bani
Salamah. Mereka
berkata kepada, “Demi
Allah. Kami belum
pernah melihatmu
melakukan dosa
sebelum ini. Kau
tampaknya tidak
mampu membuat-
buat alasan seperti
yang lain, padahal
dosamu itu sudah
terhapus oleh
permohonan ampun
Rasulullah!”
Mereka terus saja
menyalahkan
tindakanku itu hingga
ingin rasanya aku
kembali menghadap
Rasullah saw. untuk
membawa alasan
palsu, sebagaimana
orang lain
melakukannya.
Aku bertanya kapada
mereka, “Apakah ada
orang yang senasib
denganku?”
Mereka menjawab,
“Ya! Ada dua orang
yang jawabannya
sama dengan apa yang
kau perbuat. Sekarang
mereka berdua juga
mendapat keputusan
yang sama dari
Rasulullah
sebagaimana
keadaanmu sekarang!”
Aku bertanya lagi,
“Siapakah mereka itu?”
Mereka menjawab,
“Murarah bin Rabi’ah
Al-Amiri dan Hilal bin
Umayah Al-Waqifi.”
Mereka menyebutkan
dua nama orang shalih
yang pernah ikut
dalam perang Badr
dan yang patut
diteladani. Begitu
mereka menyebutkan
dua nama orang itu,
aku bergegas pergi
menemui mereka.
Tak lama setelah itu,
aku mendengar
Rasululah melarang
kaum muslimin
berbicara dengan kami
bertiga, di antara
delapan puluhan orang
yang tidak ikut dalam
perang tersebut.
Kami mengucilkan diri
dari masyarakat
umum. Sikap mereka
sudah lain kapada
kami sehingga rasanya
aku hidup di suatu
negeri yang lain dari
negeri yang aku kenal
sebelumnya. Kedua
rekanku itu mendekam
di rumah masing-
masing menangisi
nasib dirinya, tetapi
aku yang paling kuat
dan tabah di antara
mereka. Aku keluar
untuk shalat jamaah
dan kaluar masuk
pasar meski tidak
seorang pun yang mau
berbicara denganku
atau menanggapi
bicaraku. Aku juga
datang ke majilis
Rasullah saw. sesudah
beliau shalat. Aku
mengucapkan salam
kepada beliau, sembari
hati kecilku bertanya-
tanya memperhatikan
bibir beliau, “Apakah
beliau menggerakkan
bibirnya menjawab
salamku atau tidak?”
Aku juga shalat dekat
sekali dengan beliau.
Aku mencuri pandang
melihat pandangan
beliau. Kalau aku
bangkit mau shalat, ia
melihat kepadaku.
Namun, apabila aku
melihat kepadanya, ia
palingkan mukanya
cepat-cepat. Sikap
dingin masyarakat
kepadanya, ia
palingkan mukanya
cepat-cepat. Sikap
dingin masyarakat
kepadaku terasa lama
sekali. Pada suatu hari,
aku mengetuk pintu
paga Abu Qaradah,
saudara misanku dan
ia adalah saudara yang
paling aku cintai. Aku
mengucapkan salam
kepadanya, tetapi
demi Allah, ia tidak
menjawab salamku.
Aku menegurya, “Abu
Qatadah! Aku mohon
dengan nama Allah,
apakah kau tau bahwa
aku mencintai Allah
dan Rasul-Nya?”
Ia diam. Aku
mengulangi
permohonanku itu,
namun ia tetap
terdiam. Aku
mengulangi
permohonanku itu,
namun ia tetap
terdiam. Aku
mengulanginya sekali
lagi, tapi ia hanya
menjawab, “Allah dan
Rasul-Nya lebih tahu!”
Air mataku tidak
tertahankan lagi.
Kemudian aku kembali
dengan penuh rasa
kecewa.
Pada suatu hari, aku
berjalan-jalan ke pasar
kota Madinag. Tiba-
tiba datanglah orang
awam dari negeri
Syam. Orang itu
biasanya
mengantarkan
dagangan pangan ke
kota Madinah. Ia
bertanya, “Siapakah
yang mau menolongku
menemui Ka’ab bin
Malik?”
Langganan:
Komentar (Atom)