Sabtu, 13 November 2010

Kisah Ka’ab bin Malik Dalam Perang Tabuk Bag. 1

Pada perang Tabuk, ada
beberapa sahabat yang tidak
berangkat berperang. Salah
satu di antar mereka. Salah
satu di antara mereka adalah
Ka’ab bin Malik. Marilah kita
dengarkan cerita Ka’ab yang
menunjukkan kejujuran
imannya, usai turunnya
pengampunan Allah atas
dosanya.
“Aku sama sekali tidak
pernah absent mengikuti
semua peperangan bersama
Rasululah saw, kecuali dalam
perang Tabuk. Perihal
ketidakikutsertaanku dalam
perang Tabuk itu adalah
karena kelalaian diriku
terhadap perhiasan dunia,
ketika itu keadaan
ekonomiku jauh lebih baik
daripada hari-hari
sebelumnya. Demi Allah, aku
tidak pernah memiliki
barang dagangan lebih dari
dua muatan onta, akan tetapi
pada waktu peperangan itu
aku memikinya.
Sungguh, tidak pernah
Rasullah saw. merencanakan
suatu peperangan melainkan
beliau merahasiakan hal itu,
kecuali pada perang Tabuk
ini. Peperangan ini,
Rasulullah saw. lakukan
dalam kondisi panas terik
matahari gurun yang sangat
menyengat, menempuh
perjalanan nan teramat jauh,
serta menghadapi lawan
yang benar-benar besar dan
tangguh. Jadi, rencananya
jelas sekali bagi kaum
muslimin untuk
mempersiapkan diri masing-
masing menuju suatu
perjalanan dan peperangan
yang jelas pula. Rasulullah saw.
mempersiapkan pasukan
yang akan berangkat. Aku
pun mempersiapkan diri
untuk ikut serta, tiba-tiba
timbul pikiran ingin
membatalkannya, lalu aku
berkata dalam hati, “Aku bisa
melakukannya kalau aku
mau!”
Akhirnya, aku terbawa oleh
pikiranku yang ragu-ragu,
hingga para pasukan kaum
muslimin mulai
meninggalkan Madinah. Aku
lihat pasukan kaum muslimin
mulai meninggalkan
Madinah, maka timbul
pikiranku untuk mengejar
mereka, toh mereka belum
jauh. Namun, aku tidak
melakukannya, kemalasan
menghampiri dan bahkan
menguasai diriku.
Tampaknya aku ditakdirkan
untuk tidak ikut Akan tetapi,
sungguh aku merasakan
penderitaan batin sejak
Rasulullah saw.
meninggalkan Madinah. Bila
aku keluar rumah, maka di
jalan-jalan aku merasakan
keterkucilan diri sebab aku
tidak melihat orang kecuali
orang-orang yang diragukan
keislamannya. Merekalah
orang-orang yang sudah
mendapatkan rukhshah atau
ijinAllah Ta’ala untuk uzur
atau kalau tidak demikian
maka mereka adalah orang-
orang munafik. Padahal, aku
merasakan bahwa diriku
tidak termasuk keduanya.
Konon, Rasulullah saw. tidak
menyebut-nyebut namaku
sampai ke Tabuk. Setibanya
di sana, ketika beiau sedang
duduk-duduk bersama
sahabatnya, beliau bertanya,
“Apa yang dilakukan Ka’ab
bin Malik?”
Seorang dari Bani Salamah
menjawab, “Ya Rasulullah, ia
ujub pada keadaan dan
dirinya!” Mu’az bin Jabal
menyangkal, “Buruk benar
ucapanmu itu! Demi Allah, ya
Rasulullah, aku tidak pernah
mengerti melainkan
kebaikannya
saja !”Rasulullahsaw. hanya
terdiam saja.Beberapa waktu setelah
berlalu, aku mendengar
Rasulllah saw. kembali dari
kancah jihad Tabuk. Ada
dalam pikiranku berbagai
desakan dan dorongan
untuk membawa alasan
palsu ke hadapan Rasulullah
saw., bagaimana caranya
supaya tidak terkena
marahnya? Aku minta
pandapat dari beberapa
orang keluargaku yang
terkenal berpikiran baik.
Akan tetapi, ketika aku
mendengar Nabi saw.,
segera tiba di Madinah,
lenyaplah semua pikiran
jahat itu. Aku merasa yakin
bahwa aku tidak akan
pernah menyelamatkan diri
dengan kebatilan itu sama
sekali. Maka, aku bertekad
bulat akan menemui
Rasulullah saw. dan
mengatakan dengan tidak
sebenarnya.
Pagi-pagi, Rasulullah saw.
memasuki kota Madinah.
Sudah menjadi kebiasaan,
kalau beliau kembali dari
suatu perjalanan, pertama
masuk ke masjid dan shalat
dua rakaat. /Demikian pula
usai dari Tabuk, selesai
shalat beliau kemudian
duduk melayani tamu-
tamunya. Lantas,
berdatanganlah orang-orang
yang tidak ikut perang Tabuk
dengan membawa alasan
masing-masing diselingi
sumpah palsu untuk
menguatkan alasan mereka.
Jumlah mereka kira-kira
delapan puluhan orang.
Rasulullah saw. menerima
alasan lahir mereka; dan
mereka pun memperbaharui
baiat setia mereka. Beliau
memohonkan ampunan bagi
mereka dan menyerahkan
soal batinnya kepada Allah.
Tibalah giliranku, aku datang
mengucapkan salam kepada
beliau. Beliau membalas
dengan senyuman pula,
namun jelas terlihat bahwa
senyuman beliau adalah
senyuman yang memendam
rasa marah. Beliau kemudian
berkata, “Kemarilah!”