Kamis, 30 Desember 2010

Ka'ab bin Malik..... Bag.3

Orang-orang di pasar
itu menunjuk kepdaku,
lalu orang itu datang
kepadaku dan
menyerahkan sepucuk
surat kepadaku dan
menyerahkan sepucuk
surat dari raja Ghassan.
Setelah kubuka, isinya
sebagai berikut, “…
Selain dari itu, bahwa
sahabatmu sudah
bersikap dingin
terhadapmu. Allah
tidak menjadikan kau
hidup terhina dan
sirna. Maka, ikutlah
dengan kami di
Ghassan, kamu akan
menghiburmu!”
Hatiku berkata ketika
membaca surat itu, “Ini
juga salah satu ujian!”
Lalu aku memasukkan
surat itu ke dalam
tungku dan
membakarnya.
Pada hari yang ke-40
dari pengasinganku di
kampong halaman
sendiri, ketika aku
menanti-nantikan
turunnya wahyu tiba-
tiba datanglah
kepadaku seorang
pesuruh Rasulullah
saw. menyampaikan
pesannya, “Rasulullah
memerintahkan
kepadamu supaya
kamu menjauhi
istrimu!”
Aku semakin sedih,
namun aku juga
semakin pasrah
kepada Allah, hingga
terlontar pertanyaanku
kepadanya, “Apakah
aku harus
menceraikannya atau
apa yang akan
kulakukan?”
Ia menjelaskan, “Tidak.
Akan tetapi, kamu
harus menjauhkan
dirimu darinya dan
menjauhkannya dari
dirimu!”
Kiranya Rasulullah juga
sudah mengirimkan
pesannya kepada dua
sahabatku yang
bernasib sama. Aku
langsung
memerintahkan
kepada istriku,
“Pergilah kau kepada
keluargamu sampai
Allah memutuskan
hukumnya kepada
kita!”
Istri Hilal bin Umaiyah
datang menghadap
Rasulullah saw. lalu ia
bertanya, “Ya
Rasulullah, sebenarnya
Hilal bin Umaiyah
seorang yang sudah
sangat tua, lagi pula ia
tidak memiliki seorang
pembantu. Apakah ada
keberatan kalau aku
melayaninya di
rumah?”
Rasulullah saw.
menjawab, “Tidak!
Akan tetapi ia tidak
boleh mendekatimu!”
Istri Hilal menjelaskan,
“Ya Rasulullah! Ia
sudah tidak
bersemangat pada
yang itu lagi. Demi
Allah, yang
dilakukannya hanya
menangisi dosanya
sejak saat itu hingga
kini!”
Ada seorang familiku
yang juga
mengusulkan, “Coba
minta izin kepada
Rasulullah supaya
istrimu melayai dirimu
seperti halanya istri
Hilal bin Umayah!”
Aku menjawab tegas,
“Tidak Aku tidak akan
minta izin kepada
Rasulullah saw.
tentang istriku. Apa
katanya kelak,
sedangkan aku masih
muda?”
Akhirnya, hari-hari
selanjutnya aku hidup
seorang diri di rumah.
Lengkaplah bilangan
malam sejak orang-
orang dicegah
berbicara denganku
menjadi 50 hari 50
malam. Pada waktu
sedang shalat subuh di
suatu pagi dari malam
yang ke-50 ketika aku
sedang dudung
berdzkir minta ampun
dan mohon dilepaskan
dari kesempitan hidup
dalam alam yang luas
ini, tiba-tiba aku
mendengar teriakan
orang-orang
memanggil namaku.
‘Wahai Ka’ab bin Malik,
bergembiralah! Wahai
Ka’ab bin Malik,
bergembiralah!”
Mendengar berita itu
aku langsung sujud
memanjatkan syukur
kepada Allah. Aku
yakin pembebasan
hukuman telah
dikeluarkan. Aku yakin,
Allah telah
menurunkan
ampunan-Nya.
Rasulullah
menyampaikan berita
itu kepada shahabat-
shahabatnya seusai
shalat shubuh bahwa
Allah telah
mengampuni aku dan
dua orang shahabatku.
Berlomba-lombalah
orang mendatangi
kami, hendak
menceritakan berita
germbira itu. Ada yang
datang dengan
berkuda, ada pula
yang datang dengan
berlari dari jauh
mendahului yang
berkuda. Sesudah
keduanya sampai di
hadapanku, aku
berikan kepada dua
orang itu kedua
pakaian yang aku
miliki. Demi Allah, saat
itu aku tidak memiliki
pakaian kecuali yang
dua itu.
Aku mencari pinjaman
pakaian untuk
menghadap Rasullah.
Ternyata aku telah
disambut banyak
orang dan dengan
serta merta mereka
mengucapkan selamat
kepadaku. Demi Allah,
tidak seorang pun dari
muhajirin yang berdiri
dan memberi ucapan
selamat selain Thal’ah.
Sikap Thalhah itu tak
mungkin aku lupakan.
Sesudah aku
mengucapkan salam
kepada Rasulullah,
mukanya tampak
cerah dan gembira,
katanya kemudian,
“Bergembiralah kau
atas hari ini! Inilah hari
yang paling baik
bagimu sejak kau
dilahirkan oleh
ibumu!”
“Apakah dari Allah
ataukah dari engkau
ya Rasulullah?”
tanyaku sabar.
“ Bukan dariku!
Pengampunan itu
datangnya dari Allah!”
jawab Rasul saw.
Demi Allah, aku belum
pernah merasakan
besarnya nikmat Allah
kepadaku sesudah Dia
memberi hidayah
Islam kepadaku, lebih
besar bagi jiwaku
daripada sikap jujurku
kepada Rasulullah
saw.”
Ka’ab lalu membaca
ayat pengampunannya
itu dengan penuh haru
dan syahdu, sementara
air matanya berderai
membasahi kedua
pipinya.
“ Dan terhadap tiga
orang yang
ditangguhkan
(penerimaan taubat)
mereka, hingga
apabila bumi telah
menjadi sempit bagi
mereka, padahal bumi
itu luas, dan jiwa
mereka pun telah
sempit (pula terasa)
oleh mereka, serta
telah mengetahui
bahwa tidak ada
tempat lari dari (siksa)
Allah melainkan
kepada-Nya saja.
Kemudian, Allah
menerima taubat
mereka agar mereka
tetap dalam
taubatnya.
Sesungguhnya Allah-
lah Yang Maha
Menerima taubat lagi
Maha Penyayang.” (At-
Taubah:118)